Blogger Indonesia

Recommended Post Slide Out For Blogger

Minggu, 07 Agustus 2016

Uji Kompetensi (UKOM) Perawat Harus Bisa Mengukur Skill dan Attitude.

Saya mencermati sejak akhir bulan Juli hingga kini telah masuk bulan Agustus 2016 ini sepertinya salah satu topik yang trend & terus hangat dibicarakan khususnya di media sosial perawat adalah ukom keperawatan.

Yap..ini tentunya menguak kepermukaan tidak terlepas dari sorotan berbagai media terhadap aksi demonstrasi (unjuk rasa) yang dilakukan oleh teman-teman Aliansi Peduli Perawat Indonesia Timur (APPIT) yang menuntut peninjauan ulang ujian kompetensi keperawatan. Yang disuarakan tidak tanggung-tanggung, transparansi uang ukom bahkan menuntut agar ukom dihapuskan !
Tentu ini sah-sah saja ditengah-tengah kehidupan demokrasi negeri ini.

Menyuarakan agar uji kompetensi dihapus, bagi saya  sudah lewat masanya, kini sudah bukan barang baru lagi. Memang, dulu diberbagai forum nasional baik yang diselenggarakan pemerintah maupun organisasi keperawatan, mungkin saya termasuk orang pertama yang selalu protes keras (kontra pendapat) terkait sistem penerapan pelaksanaan ukom yang digadang-gadang ketika itu, yang menurut saya kurang tepat cara pelaksanaannya. Tapi, itu masih tahun 2012, jauh sebelum di sahkan Undang-Undang Keperawatan yang didalammnya memuat unsur uji kompetensi perawat ini.
(kalau kagak percaya..silahkan coba cari tahu sendiri aja di google dengan kata kunci pencarian: firman telaumbanua + uji kompetensi perawat,  sepertinya masih bisa ditemukan bekas-bekas suara saya atau protes saya bagai mana seharusnya uji kompetensi dilaksanakan).

Terakhir kalinya saya suarakan ukom perawat ini yaitu 2 (dua) bulan sebelum di sahkannya RUU Keperawatan sebagai Undang-undang. Ketika itu pada acara Lokakarya Standard Setting Uji Kompetensi Ners Indonesia UKNI yang diselenggarakan HPEQ DIKTI bulan Juli 2014 di Ciputra Hotel Jakarta. Undangan di lokakarya ketika itu dari segenap pihak dan pemangku kepentingan/stakeholders, diantaranya  MTKI, AIPNI, PPNI, HPEQ DIKTI, para pakar narasumber & PT Keperawatan se Indonesia serta beberapa undangan lainnya.
Waktu itu saya ambil moment bersuara dengan harapan bisa menjadi tambahan acuan/koreksi Rancangan UU Keperawatan yang telah diusulkan. Ketika itu kita menyarankan supaya jangan hanya knowledge saja di uji, tapi harus bisa mengukur skill dan attitude. Selain itu bila uji kompetensi tetap dipertahankan maka teknis pelaksanaan ukom perawat ini harus dipertegas bahwa dilaksanakan sebelum lulus oleh perguruan tinggi keperawatan (exit examination), uji kompetensi berbarengan dengan ujian di perguruan tingginya, sehingga kalau dinyatakan lulus berarti uji kompetensinya juga lulus.

Ket. Foto: Penanda tanganan berita acara hasil Lokakarya Standard Setting Uji Kompetensi Nasional Indonesia (UKNI). (Made Kariasa,mewakili HPEQ DIKTI/Fasilitator, Harif Fadilah,mewakili PPNI, Firman Telaumbanua,mewakili PT dan 2 orang lagi Perguruan Tinggi lainnya).

Lalu sekarang, bagaimana ?

Pelaksanaan Ukom saat ini memang harus kita akui bahwa masih perlu ditata secara lebih baik lagi yang berpihak pada semua lapisan kepentingan termasuk pada peserta ukom dalam hal ini perawat/calon perawat. Namun dalam menatanya, tentunya perlu kita melakukan penyesuaian-penyesuaian termasuk acuan dan dasar hukumnya. Sekarang ini telah berlaku UU Keperawatan dan telah lahirnya beberapa peraturan pemerintah terkait ukom ini, seperti permenristek dikti nomor 12 tahun 2016 dll. Ini artinya acuan Undang-undangnya sudah bergeser, acuan UU seperti dulu (zamanya saya protes) sebagian sudah tidak bisa dijadikan acuan lagi sekarang. Inilah makanya saya bilang diatas, teriak hapus ukom sudah lewat masanya.

Bagi saya terkait ukom ini, komentar saya adalah masing-masing kita perlu melakukan sebuah refleksi mendasar yang harus kita jawab didalam hati masing-masing.

Bagaimana dengan sistem ukom saat ini, apakah sudah mampu menggaransi PERAWAT KOMPETEN ?
Menjadi kompeten ádalah dambaan setiap perawat. Tapi kompeten menurut siapa & dan bagaimana ?

Sudah samakah pengertian kita terkait perawat yang KOMPETEN ?
Kalau tidak sama, dimanakah letak perbedaanya?

**
Menurut hemat saya secara pribadi, pro-kontra ukom selama ini masih terjadi disebabkan karena beberapa hal, diantaranya termasuk perbedaan pandangan dan alat ukur "kompetensi" itu sendiri :

Versi kompeten menurut Lembaga Pendidikan Keperawatan
= bagaimana mahasiswa lulus diterima di tempat kerja (bila diterima, maka dianggap "diakui"/KOMPETEN).
Lembaga Pendidikan menyiapkan mahasiswa agar kelak dinyatakan lulus sudah memiliki "Kompetensi Lulusan" --> "Kompetensi Kerja"
Mewujudkan hal itu, pihak lembaga pendidikan melakukan dengan segala upaya membekali mahasiswa  baik secara hard skill maupun soft skill (termasuk penentuan porsi dalam muatan kurikulum; dominan soft skil). Lembaga pendidikan percaya pada taksonomi pendidikan (bloom) dimana tujuan pendidikan harus mampu membekali peserta didik ke tiga ranah/domain meliputi : kognitif domain (pengetahuan), affectif domain (sikap), pshychomotor domaian (keterampilan).

Taksonomi Bloom (1956):
Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor/Keterampilan)

Versi kompeten menurut Lembaga Pengembangan Uji Kompetensi (LPUK)
= bagaimana peserta ukom menjawab soal-soal ukom.
(bila perawat menjawab soal dengan benar (memenuhi standar minimal), maka dianggap  "diakui"/KOMPETEN)
Kecenderungan LPUK masih fokus hardskill saja (domain pengetahun); menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.

Refleksi akhir:
Bisakah perbedaan pandangan terkait kompetensi diatas disatupadukan menjadi sempurna ?
Menurut saya sich BISA , caranya alat mengukur kompetensi harus SAMA..hehhe

Jangan Hanya Knowledge, UKOM Perawat Harus Bisa Mengukur Skill dan Attitude.


Salam Super


8 komentar:

Suara Perawat mengatakan...

Salam Super prof

Anonim mengatakan...

dan seperti biasa, KRITIS! Salam super...

dong dong23 mengatakan...

michael kors outlet online
uggs for cheap
fitflops
coach factory outlet
louis vuitton handbags
louboutin pas cher
michael kors outlet
ghd hair straighteners
adidas yeezy
christian louboutin outlet
tory burch outlet
jordan 8s
michael kors outlet online
toms outlet
christian louboutin outlet
coach outlet
timberland outlet
louis vuitton borse
kate spade
uggs uk
oakley sunglasses
oakley sunglasses
louis vuitton outlet
ralph lauren polo
burberry handbags
oakley sunglasses wholesale
fitflops
jordans for sale
pandora jewelry
toms outlet
true religion outlet
moncler uk
air jordan pas cher
kate spade
ugg outlet
toms shoes
vans shoes outlet
cincinnati bengals jerseys
ray ban sunglasses outlet
kate spade handbags
20168.15wengdongdong

raybanoutlet001 mengatakan...

chicago bulls jersey
kansas city chiefs jerseys
coach outlet
cheap uggs
coach outlet
asics shoes
carolina jerseys
ugg boots
michael kors handbags outlet
kobe 9

chenlina mengatakan...

hermes birkin
cheap ray ban sunglasses
fred perry outlet
nike outlet store
ralph lauren polo
michael kors outlet clearance
canada goose jackets
christian louboutin uk
cheap jordans
ralph lauren outlet
huangxiang20170424

Jian Zhuo mengatakan...

moncler pas cher
louboutin shoes
mbt
longchamp bags
beats headphones
adidas outlet store
michael kors outlet online
michael kors bags
ralph lauren sale clearance uk
ralph lauren
170524yueqin

风骚污男 mengatakan...

20170526 junda
adidas uk store
louis vuitton outlet online
vans outlet
cheap oakley sunglasses
prada sunglasses for women
michael kors outlet clearance
coach outlet
cheap jordan shoes
nike roshe run
burberry outlet store

adidas nmd mengatakan...

yeezy boost 350 white
moncler outlet
prada shoes
michael kors handbags
san antonio spurs jerseys
true religion jeans
fitflops shoes
chaussure louboutin
coach outlet online
nike blazer

Posting Komentar